@rararamadhanora @musfiandini @nabilaaadani on Pendidikan Cakru LFM, Jan ‘12.
@rararamadhanora @musfiandini @nabilaaadani on Pendidikan Cakru LFM, Jan ‘12.
This should be posted since weeks ago but this Little Miss Mager never got enough intention to touch the Tumblr dashboard again before today. So, to begin it, first we’re gonna go to the kitchen in the backstage where ideas were cooked and the ‘night life’ and ‘zombie age’ began;



Then here it comes the meals. First, some birthday wishes for the receiver, framed in an accordeon-look-alike card. All is one hundred percent handmade.

Tools: carton paper, cardboard, watercolor, Concorde paper, duplex paper, black marker brushed by wet paintbrush.
A mini four-chaptered storybook wrapped inside a box. The concept of the storyline was inspired by (500) Days of Summer the movie. All is still handmade.


Tools: cardboard, wrapping paper, Concorde paper, writing ideas.
What should be a wall birthday decoration (but this one was flipped so you may not be able to see the whole letters like HBD etc). Another handmade product.

Tools: printable (and downloadable) wrapping papers, Concorde paper, black marker brushed by wet paintbrush, paperclip, wood brace, duplex paper, rattan rope.
Some others—include the main gift and the packaging—weren’t captured because of the hectic moments, I personally blame myself for being a deadliner. But I’d still like to post them later indeed, though it means I need to borrow them again from the new owner. Not a chance to ngemodus anyway.
Anyway, gotta thank someone for keeping me busy during December last year ‘til the middle of January and giving me reason to keep up with this old hobby which I rarely got time to do now. But a happy birthday saying would be so late right now, so… let’s just let this post end.
Enjoy your gifts, Sir.
(Source: val-dez, via sarahsoeprapto)
….dua ribu sebelas adalah tahun terbaik gue sejauh ini. Nggak, kok, gue gak mengulang kalimat ini setiap pergantian tahun. Terakhir gue ngomong kayak gini adalah di penghujung 2008. Dan sekarang, maaf ya, kedudukan kamu udah digeser sama si 2011. :-)
Enam belas dari sembilan puluh satu hal di daftar Things-To-Do-Before-I-Die versi Nabilah Adani pun udah berhasil gue tuntaskan tahun ini. Seventy five more to go! Hap hap!
2011 itu…
Dari mulai jadi alumni Belitung Timur. Lantas jadi warga baru di jalan Ganeca. Ketemu dan kenal sama 286 orang2 baru yang super ini. Si Bleki jadi anggota keluarga baru di rumah (FYI, dia benda elektronik, bukan anjing pelacak), si Putih juga akhirnya jadi kawan baru gue (FYI nomor dua, dia bukan kucing rumahan, dia juga barang elektronik). Memulai kehidupan di lingkaran baru bernama dunia perkuliahan. Menarik diri ke dalam randomnya kehidupan yang gue bentuk di lingkungan baru ini. Untuk pertama kalinya dibikinin lagu sama seseorang *uhuk. Ganti model rambut dan memotong sekitar 30 cm rambut lama gue. Ke Trans Studio Bandung juga (akhirnya). Ulang tahun di tanggal cantik (sekaligus mengalami hari yang cantik, terima kasih). Dan lain-lain. Hal-hal kecil yang super banyak dan menyenangkan sekali tapi kalau dirinci disini… nyampah. Fufu.
Mungkin, mirip seperti 2008, 2011 juga gue bilang tahun terbaik karena ada fase lingkungan baru di dalamnya.
Oke, untuk menutup dan mengenang 2011, gue mau mengucapkan terima kasih buat… semesta. Dan tentunya, Tuhan yang masih mengizinkan gue buat melewati tahun yang whoa! ini.
Oh, satu lagi, ding. Because this year won’t be this randomly funny without you, A-nyway. :-)
Kadang bingung sama semesta.
Hari ini, ngasih alasan mutlak tentang kenapa-gue-harus-caw.
Besoknya, ketika lagi late dinner sama beberapa temen, seorang temen nawarin permen karet.
Temen2 yang lain langsung ngambil masing2 satu, gue masih berkutat sama Twitter. Tiba2 salah satu temen muncul dan menyorongkan kepalanya dari balik leher gue, sejajar dan sebelahan sama muka gue, ceritanya mau ngepo timeline, sambil ngunyah permen karet tadi.
Yak. Aroma Happydent White rasa stroberi.
Terima kasih untuk mengingatkan kembali.
Semalam, gak bisa tidur. Dan rasanya agak segan buat ngaku kalau, penyebabnya ternyata flashback singkat tentang suatu hal ini.
Mungkin karena setengah hari sebelumnya gue baru aja ketemuan sama besties gue jaman SMA, dan pertemuan baru setelah sekian lama gak bersua bikin kita sibuk apdet berita. Dan tentu aja, apalagi sih topik pertama kalau cewek2 remaja tanggung semacam kita lagi mau berbagi cerita. Lima huruf inisial c, ditutup huruf a.
Mau gak mau, jadi keingetan satu nama. Atau, satu insiden di dua malam Minggu yang lalu.
Lantas gue ngetik satu draft, tapi pas mau klik publish… nggak, deh. Rasanya agak norak. Tapi gue tetep pengen posting tentang ini. Ya, sekedar buat kepuasan pribadi, sih. So I decided to re-write.
—-
Gue nyaris selalu berharap tanggal 17 Desember 2011 gak pernah terjadi.
Iya, nyaris. Soalnya, sebagian waktunya gue habisin buat berusaha ngeyakinin diri sendiri bahwa hari itu ada karena takdir lagi berusaha menggiring gue ke keadaan yang lebih ‘seharusnya.’
Kenapa begitu, karena, waktu itu ada perang kecil di dalam tubuh gue. Pihak yang satu bilang, “It’s okay to keep carrying on,” dan yang satunya lagi bilang, “You know you’d better stop here.”
Tentunya agak mudah ditebak, kedua pihak itu siapa. Yang punya inisial lambang atom Hidrogen sama Oksigen. Gak mau nyebut ah, geli.
Karena gue tau kalau si pihak kedua cuma bisa ganti opini kalau udah dikasih bukti, jadilah gue minta tolong sama semesta. Btw, pada waktu itu gue sebenernya cenderung sama pendapat pihak pertama. Jadi beginilah bunyi permintaan gue,
“Tolong bantu aku, ya, biar mereka jadi selaras. Aku sih pengennya si pihak nomor dua bisa ngikutin si pihak nomor satu aja. Bantu aku ya, biar si nomor dua ngeliat kalau si nomor satu gak salah, biar si nomor dua jadi mau ngalah sama si nomor satu. Tolong kasih liat alasan2nya ke si nomor dua, ya.”
Dan diam2 dalam hati berharap kalau kamu juga bakal ngebantu si nomor dua buat meyakini kalau gak ada yang salah dengan gue mengambil opsi ‘tetep-kayak-gini.’
Kenapa diam2, karena gue ingin tau, how much effort will you spend by your personal awareness, in case I don’t ask.
Anyway, maaf untuk penggunaan gue-kamunya. It has always been awkward to call you by ‘lo,’ tapi gue juga gak mau menggunakan kata ganti ‘aku’ lagi ketika bicara tentang—atau sama—kamu.
Yet all what I (or, we) got was that accident. That tremendous TV-scene-look-alike falling-out. Bukan cuma tentang gue-gak-pernah-debat-sehebat-ini-sama-siapapun-seumur-hidup-kecuali-sama-kamu, tapi juga realita kalau semesta—dan bahkan kamunya sendiri—terkesan lagi membawa gue untuk sadar bahwa gue, akhirnya, harus angkat kaki dari fase ini.
Ironisnya, ketika gue butuh dikasih alasan buat tetep tinggal, semesta dan kamunya sendiri—yang selama ini selalu rajin memprovokasi gue untuk tetep diam disini—malah secara tiba2 membuat gue terlibat pada skenario yang gak bisa lebih jelas lagi buat menyiratkan kalau udah saatnya gue bilang, “I’m out. I’m giving it up already.”
Kayaknya adu pendapat emang udah jadi rutinitas wajib harian kita sejak kali pertama kita interaksi. Mungkin line dari lagunya Secondhand Serenade yang bunyinya, “Not a million fights could make me hate you,” emang dibuat buat kita kali, ya. Tapi, hari Sabtu dua minggu yang lalu itu, ternyata stok toleransi gue gak cukup banyak buat membuat gue bersikukuh untuk tetep tinggal.
…
Titik2 di atas, (mungkin) gue sambung di postingan lain aja, ya. Kalau gue masih mood buat nge-publishnya, itu juga.
Oke. Gue udah cukup lega dan puas sekarang. Semoga postingan ini gak lebih norak dari draft sebelumnya yang bahkan udah gue koreksi puluhan kali.
Time to click publish then take a nap. Kasur mana kasur… Emm, bentar bentar. Itu apa yang nyelip kesimpen di bawah bantal tidur? Oh. Kartu ucapan selamat ulang tahun dari kamu, ternyata.